Langganan Koran JITU Rp.90.000/tahun PASANG IKLAN
Jumat, 25 Juli 2014

Olahraga Sambil Denger Musik Ternyata Nggak Gampang Capek

Slider

One good thing about music, when it hits you, you feel no pain (salah satu keindahan musik adalah saat ia mengenaimu, Kamu tidak akan merasa sakit) begitu kata Bob Marley. Indah sekali. Quote lain yang terkenal mengenai musik juga datang dari seorang filsuf seniman asal Jerman Friedrich Nietzsche. Ia mengatakan without music, life would be a mistake (tanpa musik, hidup  hanyalah jadi sebuah kesalahan) Bahkan benak filsuf yang juga seorang ahli matematika asal Yunani, Plato pun tak luput dari sentuhan musik. Ia bilang, music gives a soul to the universe, wings to the mind, flight to the imaginationand life to everything (musik memberikan jiwa kepada alam semesta, memberikan sayap kepada pikiran, membuat imajinasi melayang bebas, dan memberikan kehidupan bagi semua hal).

Diakui atau tidak, musik adalah sebuah anugerah bagi kehidupan. Dengan berbagai bentuknya, musik masuk ke seluruh ruang kehidupan dan aktivitas manusia. Pemandangan orang-orang dengan headphone atau earphone di telinga saat sedang jalan-jalan, olahraga atau di tempat kerja pasti banyak Kamu temui setiap hari. Sedang olahraga? Ya, musik dan olahraga adalah sebuah pasangan sempurna.

Sejak kurun tahun 1970-an, ketika senam aerobik mulai populer, musik mulai diperhitungkan sebagai salah satu komponen penting yang memberikan efek positif dalam program olahraga. Para instruktur kesehatan dan fitness pun meyakini bahwa keberhasilan sebuah kelas program didukung oleh penggunaan serta pemilihan jenis musik yang tepat selama latihan.

Banyak penelitian yang sudah dilakukan untuk mengetahui pengaruh musik terhadap kemampuan tubuh dalam olahraga. Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Ellis, D. S. danBrighouse, Gmembuktikan efek musik terhadap kecepatan respirasi dan detak jantung. Dalam studi yang dipublikasikan oleh  The American Journal of Psychology ini, detak jantung yang normalnya berkisar antara 72-80 detak per menit bisa naik sedikit secara perlahan jika dipaparkan pada musik bertempo cepat. Sedangkan kalau mendengarkan musik santai alias bertempo lambat, detak jantung juga perlahan menyesuaikan. Studi yang diterbitkan Journal of Research in MusicEducation menyatakan bahwa ikut naik-turunnya detak jantung ini disebabkan oleh efek emosional yang dibawa oleh sebuah musik.

Tubuh Bekerja dalam Irama

Carl Foster, Ph.D, kepala peneliti Exercise and Health Program,University of Wisconsin, La Crosse mengatakan bahwa secara alami, seseorang akan mengikuti sebuah irama tertentu dalam aktivitasnya. “Itu adalah cara kerja otak dan tubuh kita,” ujarnya. Foster mengistilahkannya dengan sinkronisasi atau entrainment. “Kamu akan melangkah atau mengayuh pedal sesuai irama musik yang Kamu dengar,” tambahnya.

Costas Karageorghis, Ph.D dari Brunel University School of Sport and Education, London, salah satu institusi pendidikan terbaik di dunia dalam musik dan olahraga bahkan mengatakan bahwa musik seolah menjadi doping yang legal buat para atlit. “Musik dapat mengalihkan seorang dari persepsi bahwa ia melakukan sebuah hal yang berat serta meningkatkan daya tahan tubuh sampai sekitar 15 persen,” tandasnya.

Karageorghis juga sependapat dengan Foster dalam hal sinkronisasi atau penyelarasan. Dalam studinya, ia menunjukkan bahwa sinkronisasi irama musik dengan gerakan tubuh mampu menaikkan performa fisik seseorang. Hal ini berlaku untuk kegiatan seperti ber-ski, mendayung, bersepeda, cross country, dan berlari.

Sinkronisasi ini juga mempu membuat seorang olahragawan bergerak dengan efektif dan efisien. Juara dunia cabang lari jarak jauh asal Ethiopia Haile Gebrselassie terkenal dengan musik pop favoritnya “Scatman” yang selalu menemaninya selama berlari. Lagu tersebut dipilihnya karena sangat cocok dengan langkahnya. Mempertahankan irama langkah yang stabil dan efisien sangat penting bagi seorang pelari jarak jauh.

Dalam risetnya, Karageorghis mengidentifikasi tiga hal utama tentang musik yang kemungkinan mempengaruhi performa fisik seseorang, yakni :

  1. Kecenderungan untuk bergerak seirama dengan suara musik.
  2. Kecederungan untuk meningkatkan gairah.
  3. Kecenderungan untuk mengalihkan perhatian seseorang dari ketidaknyamanan saat berolahraga.

Dr. Len Kravitz, Program Coordinator of Exercise Science and Researcher dariUniversity of New Mexico, Albuquerque dalam risetnya juga menemukan hasil serupa. Menurutnya musik mampu menjadi motivator yang efektif buat semua kalangan usia, meningkatkan koordinasi motorik dan memberikan relaksasi.

Dalam sebuah riset  Szmedra, L. and Bacharach, D.W. yang dipublikasikan oleh  International Journal of Sports Medicine, dilakukan pengujian terhadap 10 laki-laki sehat dan terlatih untuk menyelesaikan latihan treadmill selama 15 menit dengan VO2max 70 persen. Latihan pertama dilakukan sambil mendengarkan musik klasik sedangkan latihan kedua dilakukan tanpa musik sebagai pembanding. Hasilnya, pada latihan pertama ditemukan penurunan detak jantung, tekanan darah sistolik, kadar laktat dan tingkat tenaga. Kadar norepinephrine yang merupakan indikator tingkat stress selama latihan pun menurun meskipun tidak signifikan.

Studi ini diperkuat oleh penelitian Yamashita dan beberapa peneliti rekannya yang diterbitkan dalam Journal of Sports Medicine and Physical Fitness. Mereka menemukan bahwa jenis musik yang disukai seseorang ikut mempengaruhi hasil latihan. Para peneliti ini menguji delapan laki-laki, masing-masing dalam 30 menit latihan fisik pada VO2max 40 persen. Mereka yang mendengarkan musik favoritnya selama latihan, menunjukkan tingkat tenaga yang lebih rendah dibandingkan tanpa musik. Namun pengaruh musik ini tidak terjadi pada latihan dengan VO2max 60 persen. Mereka menyimpulkan bahwa untuk mendapatkan hasil terbaik dalam sebuah latihan dengan bantuan musik, jenis musik yang dipilih harus tepat dan disukai.

Penelitian lain dilakukan untuk menunjukkan hubungan daya tahan kekuatan otot dengan musik. Sebanyak 27 mahasiswa laki-laki dites untuk mengangkat sebuah dumbel lurus di depan dada dengan sebelah tangan dan menahannya selama mungkin. Mereka melakukan pengujian dalam empat kondisi yang berbeda, yakni prior exposure(mendengarkan musik sebelum tes),half exposure(mendengarkan musik mulai awal tes hingga separuh jalan), full exposure(mendengarkan musik mulai awal hingga selesai tes) dan tanpa musik sama sekali. Hasilnya, semua perlakuan yang disertai mendengarkan musik menghasilkan daya tahan kekuatan otot yang lebih lama dibandingkan tanpa musik. Saat dibandingkan lebih lanjut, mereka yang mendengarkan musik sepanjang tes mampu menahan dumbel jauh lebih lama dibandingkan saat dalam kondisi prior exposure dan half exposure.

Memilih Musik yang Pas Buat Olahraga

Untuk mendapatkan hasil optimal dari “keajaiban” musik ini, perlu mempertimbangkan jenis aktvitas fisik, intensitasnya serta waktu paling tepat untuk mendengarkannya. Olahraga biasanya terdiri dari beberapa tahap yakni mulai dari peregangan, pemanasan, latihan inti sampai pendinginan. Nah, para olahragawan sebaiknya memilih musik yang beat-nya sesuai dengan tahap olah fisik yang dilakukannya. Brunel University School of Sport and Education sudah memilah-milah contoh musik dalam Brunel Music Rating Inventory (BRMI) untuk membantu para atlit memilih musik dengan beat yang tepat.

Buat masa pemanasan misalnya, saat itu detak jantung seseorang sekitar 120 beat per menit, maka disarankan untuk memilih musik bertempo 80-125 beat per menit. Tempo musik secara bertahap dinaikkan seiring dengan peningkatan aktivitas yang juga berarti membuat jantung berdetak lebih kencang.

Yang tak kalah penting diperhatikan adalah kekuatan suara musik. Jika tujuannya untuk latihan tim, Idealnya memang musik diperdengarkan melalui sistem audio yang bagus di lokasi latihan. Jangan sampai kekuatan volume suara berada di atas 75 dB karena justru berdampak negatif. Suara yag terlalu kuat digabung dengan naiknya tekanan darah dalam pembuluh saluran pendengaran akibat aktivitas olahraga bisa menyebabkan kehilangan pendengaran ringan untuk sementara.(yudhi)


desktop
ANEKA PEMBIAYAAN Bth dana cpt, tnpa potongan, bunga 1,5%, jmnn BPKB Rp. ,- Detail
ANEKA SERBA-SERBI Aneka uang kuno Rp. ,- Detail
ANEKA PEMBIAYAAN Dana cpt, jaminan BPKB, bunga 1,5%, BPKB aman Rp. ,- Detail
ANEKA PENDIDIKAN Les melukis untuk TK, SD, SMP, SMA, [10Rb] Rp. ,- Detail

Tulis Komentar